Mengapa Perempuan Banyak Bekerja di Sektor Informal?
Ketika melihat perempuan berjualan di pasar, membuat makanan dari rumah, menjadi buruh gendong, menerima pekerjaan borongan, atau mengambil pekerjaan lepas, kita sering berhenti pada satu kesimpulan sederhana: mereka memilih pekerjaan itu.
Pilihan memang ada. Tetapi, seberapa bebas sebenarnya pilihan tersebut?
Pertanyaan ini penting karena pekerjaan informal sering kali dibicarakan seolah-olah semata-mata sebagai persoalan preferensi individu. Perempuan dianggap memilih pekerjaan informal karena lebih mudah dimasuki, tidak membutuhkan persyaratan yang rumit, atau menawarkan waktu kerja yang lebih fleksibel.Ada benarnya. Namun, cerita tidak berhenti di sana.
Di balik keputusan seorang perempuan untuk bekerja sebagai pedagang kecil, pekerja rumahan, buruh gendong, atau pekerja informal lainnya, terdapat banyak kondisi yang ikut membentuk pilihan tersebut. Pendidikan, keterampilan, usia, lokasi tempat tinggal, pengalaman kerja, kondisi ekonomi keluarga, hingga kesempatan kerja yang tersedia di sekitar tempat tinggalnya.
Dengan kata lain, pilihan kerja tidak pernah berdiri sendiri.
Seorang perempuan mungkin memilih pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah karena ia perlu tetap berada dekat dengan anak. Perempuan lain mungkin memilih pekerjaan dengan jam yang lebih fleksibel karena harus merawat orang tua. Ada pula yang bekerja secara informal karena pekerjaan formal yang tersedia berada terlalu jauh dari rumah, sementara ongkos dan waktu perjalanan tidak sebanding dengan upah yang diterima.
Dalam situasi seperti itu, fleksibilitas memang menjadi penting. Tetapi fleksibilitas juga memiliki harga.
Pekerjaan yang dapat dilakukan kapan saja sering kali berarti pekerjaan yang tidak memberikan kepastian kapan seseorang akan memperoleh penghasilan. Tidak adanya jam kerja tetap dapat berarti tidak adanya kepastian upah. Tidak adanya hubungan kerja formal dapat pula berarti tidak adanya jaminan sosial, perlindungan ketenagakerjaan, atau kepastian ketika pekerja mengalami kecelakaan, sakit, atau kehilangan pekerjaan.
Di sinilah kita perlu berhati-hati ketika menyebut pekerjaan informal sebagai “pilihan yang fleksibel”. Fleksibilitas bisa menjadi kesempatan, tetapi juga dapat menjadi bentuk penyesuaian terhadap keterbatasan.Bagi banyak perempuan, bekerja bukan satu-satunya pekerjaan yang harus dilakukan.
Setelah selesai bekerja mencari penghasilan, masih ada pekerjaan lain yang menunggu. Menyiapkan makanan, membersihkan rumah, mengurus anak, menemani anggota keluarga yang sakit, merawat orang tua, atau memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Sebagian besar pekerjaan tersebut tidak selalu dibayar. Namun, pekerjaan itu tetap membutuhkan waktu, tenaga, dan perhatian.Di sinilah kerja perawatan menjadi bagian penting dalam memahami mengapa perempuan banyak berada di sektor informal.
Pekerjaan perempuan di pasar kerja tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari pekerjaan yang mereka lakukan di rumah. Ketika tanggung jawab pengasuhan dan perawatan lebih banyak dibebankan kepada perempuan, waktu dan ruang yang tersedia untuk memasuki pekerjaan formal menjadi lebih terbatas.Pekerjaan formal umumnya memiliki jam kerja tertentu, lokasi kerja tertentu, serta tuntutan kehadiran yang lebih tetap. Bagi perempuan yang memiliki tanggung jawab perawatan besar, tuntutan tersebut tidak selalu mudah dipenuhi.
Sebaliknya, pekerjaan informal sering menawarkan ruang untuk menyesuaikan waktu kerja dengan kebutuhan rumah tangga. Seorang pekerja rumahan, misalnya, dapat mengerjakan pekerjaan sambil mengawasi anak. Pedagang kecil mungkin dapat mengatur sendiri kapan membuka dan menutup dagangan. Pekerja lepas dapat menerima pekerjaan tertentu tanpa harus terikat pada jam kantor.Tetapi sekali lagi, fleksibilitas itu tidak muncul dalam ruang kosong.Perempuan menyesuaikan pekerjaannya karena ada pekerjaan perawatan yang juga harus dijalankan.
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya mengapa perempuan memilih pekerjaan informal, tetapi juga mengapa tanggung jawab perawatan begitu banyak ditempatkan di pundak perempuan.Persoalannya kemudian bukan sekadar tentang keputusan individual.Pasar kerja juga menentukan pilihan-pilihan yang tersedia.
Bayangkan seorang perempuan yang hanya memiliki pendidikan tertentu, tinggal jauh dari pusat pekerjaan, tidak memiliki kendaraan pribadi, dan harus mengurus anak setiap hari. Di wilayah tempat tinggalnya mungkin tidak banyak tersedia pekerjaan formal dengan upah layak. Kalaupun ada, pekerjaan tersebut menuntut jam kerja panjang dan perjalanan yang melelahkan.
Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan informal menjadi salah satu pilihan yang paling mungkin dijangkau.Bukan karena pekerjaan itu selalu lebih baik, melainkan karena pilihan lain mungkin tidak tersedia atau terlalu mahal untuk dijalani.
Di sinilah gagasan Amartya Sen tentang capability atau kemampuan nyata seseorang untuk menjalani kehidupan yang ia nilai penting menjadi relevan. Bagi Sen, kebebasan tidak cukup dipahami sebagai ada atau tidaknya pilihan secara formal. Yang penting juga adalah apakah seseorang benar-benar memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menggunakan pilihan tersebut.
Dengan kata lain, memiliki pilihan di atas kertas tidak selalu berarti memiliki kebebasan untuk memilih.Seorang perempuan mungkin secara formal memiliki hak untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Tetapi jika ia tidak memiliki akses transportasi yang terjangkau, tidak tersedia pengasuhan anak, harus merawat anggota keluarga, atau upah yang ditawarkan tidak sebanding dengan biaya untuk bekerja, pilihan tersebut belum tentu menjadi pilihan yang sungguh-sungguh dapat ia jalankan.
Dalam pengertian ini, kemampuan untuk memilih pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh keinginan seseorang, tetapi juga oleh kondisi yang memungkinkan keinginan tersebut diwujudkan.
Maka, ketika seorang perempuan memilih pekerjaan informal karena pekerjaan itu paling mungkin dijalankan dari rumah atau paling dekat dengan tempat tinggalnya, kita perlu melihat lebih jauh. Bukan hanya “apa yang ia pilih?”, tetapi juga “pilihan apa saja yang sebenarnya tersedia baginya?” Di sinilah pentingnya melihat pekerjaan informal bukan hanya sebagai kumpulan keputusan individu, tetapi sebagai bagian dari struktur ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Upah menentukan apakah seseorang dapat bertahan dalam sebuah pekerjaan. Pendidikan dan keterampilan memengaruhi akses terhadap jenis pekerjaan tertentu. Lokasi tempat tinggal menentukan jarak seseorang dari pusat ekonomi. Transportasi memengaruhi biaya dan waktu perjalanan. Diskriminasi gender dapat membatasi kesempatan perempuan di pasar kerja. Sementara itu, ketersediaan layanan pengasuhan anak dan perlindungan sosial ikut menentukan apakah perempuan memiliki ruang untuk bekerja dengan lebih aman.Semua hal tersebut saling berhubungan.
Maka, ketika seorang perempuan berada dalam pekerjaan informal selama bertahun-tahun, kita tidak bisa buru-buru mengatakan bahwa ia memang memilih pekerjaan tersebut.Mungkin ia memang memilihnya.Tetapi mungkin juga ia sedang memilih dari pilihan-pilihan yang tersedia baginya.Perbedaan antara kedua hal itu penting.
Sebab jika kita melihat pekerjaan informal semata-mata sebagai pilihan individu, maka solusinya pun mudah diarahkan kepada individu: tingkatkan keterampilan, cari pekerjaan yang lebih baik, berwirausaha, atau menjadi lebih produktif.
penulis Rahiwati Sanusi


