Menghidupkan Kembali Pengetahuan Perempuan:
Dari Tanah, Sampah, hingga Usaha Bersama Dalam program Adaptasi iklim, pengolaan Sampah dan Karangritri (pemanfaatan lahan kosong)
Bagi perempuan buruh gendong, tanah bukan sesuatu yang asing. Sebelum bekerja menggendong barang di pasar, banyak dari mereka tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan pertanian. Mereka mengenal tanah, musim, benih, sayuran, dan cara merawat tanaman dari orang tua mereka. Pengetahuan itu pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun waktu mengubah banyak hal. Peralihan profesi, perubahan tata kehidupan di desa, dan pembangunan pertanian yang berlangsung selama puluhan tahun perlahan membuat pengetahuan tersebut semakin jauh dari kehidupan mereka. Revolusi Hijau yang membawa perubahan besar dalam sistem pertanian Indonesia juga mengubah relasi masyarakat dengan tanah, produksi pangan, dan pengetahuan pertanian. Dalam proses pembangunan tersebut, perempuan sering kali tidak ditempatkan sebagai pemilik pengetahuan dan pengambil keputusan, melainkan sebagai tenaga kerja yang keberadaannya tidak selalu terlihat.
Program Karagritri yang didorong YASANTI mencoba membuka kembali ruang yang lama tertutup itu. Bagi YASANTI, mengajak buruh gendong kembali mengolah tanah bukan semata-mata kegiatan menanam sayuran. Ia merupakan upaya untuk menghidupkan kembali ingatan dan pengetahuan kolektif perempuan yang selama bertahun-tahun tidak digunakan.
Dalam pertemuan-pertemuan program, para ibu kembali berbicara tentang pertanian. Mereka saling berbagi pengalaman tentang tanaman yang pernah mereka tanam, cara merawatnya, tanah yang cocok untuk tanaman tertentu, hingga pengalaman yang mereka peroleh dari orang tua masing-masing.Percakapan sederhana tentang pertanian kemudian menjadi sesuatu yang lebih besar: sebuah ruang untuk mengingat.Pengetahuan yang selama ini seolah hilang ternyata tidak benar-benar hilang. Ia tersimpan dalam ingatan tubuh, pengalaman hidup, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.Ketika pengetahuan perempuan kembali dihidupi
Selama bertahun-tahun, sebagian buruh gendong meninggalkan pekerjaan pertanian dan memilih bekerja di pasar. Pilihan tersebut tentu berkaitan dengan kebutuhan ekonomi dan perubahan kehidupan di kampung halaman mereka.Tetapi ketika mereka kembali menyentuh tanah melalui kegiatan berkebun, sesuatu yang lama tidak digunakan mulai muncul kembali.Mereka kembali mengingat bagaimana menanam. Mereka kembali mendiskusikan tanaman. Mereka kembali bertukar pengetahuan.
Di sinilah pentingnya melihat kerja iklim bukan hanya sebagai persoalan teknologi, emisi, atau kebijakan lingkungan. Perubahan iklim juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempertahankan pengetahuan, mengelola sumber daya, memenuhi kebutuhan pangan, dan membangun ketahanan hidup.Bagi perempuan pekerja informal, aksi iklim dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan: tanah di sekitar rumah, kebun, sampah yang dihasilkan sehari-hari, dan pengetahuan yang selama ini mereka miliki.
Karena itu, praktik berkebun yang didorong YASANTI tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sayuran atau menambah penghasilan. Ia juga menjadi jalan untuk menghidupkan kembali pengetahuan kolektif yang sebelumnya hidup dalam keseharian para orang tua mereka.Pengetahuan tersebut kemudian tidak berhenti sebagai ingatan. Ia kembali dipraktikkan.Dari asesmen, bank sampah, hingga kebun, Program Karagritri dimulai dengan asesmen untuk melihat kondisi dan kebutuhan buruh gendong serta lingkungan tempat mereka tinggal. Dari proses tersebut, kegiatan kemudian berkembang melalui pengelolaan sampah dan pembentukan bank sampah.
Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang mulai dilihat dengan cara berbeda. Ia dapat dipilah, dikumpulkan, dikelola, dan memiliki nilai.Tahap berikutnya berkembang pada penanaman sayur-mayur di kampung halaman buruh gendong. Tanah yang mungkin selama ini tidak dimanfaatkan kembali digunakan untuk berkebun.Kegiatan ini mempertemukan dua hal yang sering dipisahkan: kerja lingkungan dan kerja ekonomi.Ketika perempuan menanam sayuran, mereka bukan hanya melakukan aksi untuk lingkungan. Mereka juga berpotensi mengurangi pengeluaran rumah tangga, memenuhi sebagian kebutuhan pangan, dan jika dikembangkan lebih jauh, menghasilkan pendapatan.
Begitu pula dengan pengelolaan sampah. Bank sampah kemudian tidak berhenti pada aktivitas mengumpulkan dan memilah sampah. Program mendorong peningkatan nilai sampah melalui pelatihan daur ulang. Botol-botol bekas, misalnya, dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, seperti dompet dan lampu hias.Di sini, sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan lingkungan. Ia juga menjadi sumber daya yang dapat dikelola oleh perempuan.
Dari kegiatan individu menuju usaha Bersama,Harapan yang lebih jauh dari rangkaian kegiatan tersebut adalah munculnya nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan buruh gendong.Namun, lebih dari sekadar tambahan pendapatan individual, program ini membuka kemungkinan untuk membangun usaha bersama.
Gagasan tersebut menjadi penting karena perempuan buruh gendong memiliki pengalaman panjang dalam bekerja bersama dan membangun solidaritas. Jika pengetahuan pertanian, pengelolaan sampah, keterampilan daur ulang, dan pengalaman organisasi dapat dipertemukan, bukan tidak mungkin kegiatan tersebut berkembang menjadi usaha bersama kelompok Sayuk Rukuh Paguyuban Buruh Gendong.
Dengan demikian, kegiatan lingkungan tidak berhenti sebagai proyek yang selesai ketika program berakhir. Ia diharapkan menjadi sesuatu yang dapat terus hidup karena dimiliki dan dikelola oleh kelompok.Inilah yang membuat kerja iklim berbasis komunitas menjadi penting.Perubahan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Ia dapat dimulai dari kelompok perempuan yang berkumpul, berbicara tentang tanah, menanam sayuran, memilah sampah, dan belajar membuat sesuatu dari barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Di dalam proses itu, ada pengetahuan yang kembali hidup. Ada solidaritas yang kembali dirawat. Ada kemungkinan ekonomi yang mulai dibangun. Merawat tanah sekaligus merawat ingatanPada akhirnya, Karagritri bukan hanya tentang menanam atau mengolah sampah. Ia juga tentang mengembalikan perempuan pada posisi sebagai subjek yang memiliki pengetahuan.
Selama pembangunan berlangsung, banyak pengetahuan perempuan yang tidak tercatat dalam buku, tidak masuk dalam statistik, dan tidak dianggap sebagai pengetahuan penting. Padahal pengetahuan tentang tanah, pangan, tanaman, pengelolaan rumah tangga, dan cara bertahan dalam situasi sulit merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Ketika buruh gendong kembali mengolah tanah, mereka sebenarnya sedang melakukan lebih dari sekadar berkebun. Mereka sedang menghidupkan kembali pengetahuan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka dan keluarga mereka.Dan ketika pengetahuan itu dibagikan kembali melalui percakapan antarsesama perempuan, ia berubah menjadi pengetahuan kolektif. Karena itu, aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Kadang-kadang, jalan menuju masa depan justru dapat ditemukan dengan mengingat kembali apa yang pernah kita miliki.
Tanah mengajarkan tentang merawat. Sampah mengajarkan tentang mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang berguna. Dan perempuan buruh gendong menunjukkan bahwa pengetahuan yang pernah ditinggalkan masih dapat dihidupkan kembali menjadi kekuatan baru. Dari tanah, dari sampah, dari ingatan dan kerja bersama, mereka sedang membangun kemungkinan lain: ketahanan lingkungan yang sekaligus memperkuat ekonomi dan pengetahuan perempuan.
Kontributor: Nadlrotussariroh dan Rahiwati








