Yayasan Yasanti

Buruh Gendong Empat Pasar Audiensi dengan Dinas Perdagangan, Dorong Pengelolaan Sampah dan Perlindungan Mata Pencaharian

Yogyakarta, 21 Oktober 2026 – Buruh gendong dari empat pasar, yakni Pasar Beringharjo, Giwangan, Gamping, dan Kranggan, melakukan audiensi dengan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta pada Rabu (21/10). Pertemuan yang berlangsung di aula Dinas Perdagangan ini menjadi ruang dialog antara buruh gendong, Yayasan Annisa Swasti (YASANTI), dan pemerintah untuk membahas persoalan pengelolaan sampah pasar serta berbagai tantangan yang dihadapi pekerja informal dalam menjalankan aktivitas ekonominya.

Sebelum audiensi dimulai, para buruh gendong berkumpul di lingkungan kantor Dinas Perdagangan. Selanjutnya, mereka bersama-sama memasuki aula untuk mengikuti pertemuan yang dimulai sekitar pukul 09.40 WIB.

Dalam pembukaan, Direktur YASANTI menyampaikan berbagai kegiatan yang telah dilakukan kelompok buruh gendong selama satu tahun terakhir, khususnya berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan pengelolaan sampah.

Melalui pendampingan YASANTI, kelompok buruh gendong mulai mengembangkan inisiatif pemilahan sampah, salah satunya melalui program Rumah Sedekah Botol. Program ini mendorong pengumpulan botol plastik bekas yang kemudian dijual atau disebut sebagai kegiatan panen, dengan hasil penjualan dimanfaatkan untuk mendukung keuangan kelompok.

Selain itu, YASANTI juga mengembangkan berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, termasuk lokakarya perubahan iklim, pelatihan pembuatan sabun, serta program Karangritri. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan perempuan pekerja informal dalam menghadapi persoalan lingkungan.

Dinas Perdagangan Apresiasi Inisiatif Buruh GendongDalam sambutannya, Gunawan, perwakilan Dinas Perdagangan, menyampaikan apresiasi terhadap YASANTI dan kelompok buruh gendong yang tidak hanya berfokus pada pengorganisasian pekerja informal, tetapi juga mulai mengambil peran dalam pengelolaan lingkungan pasar.

Ia menegaskan bahwa ruang pertemuan di Dinas Perdagangan terbuka bagi berbagai kelompok dan pemangku kepentingan yang beraktivitas di pasar rakyat.

Gunawan juga menjelaskan bahwa persoalan sampah pasar masih menjadi tantangan besar. Volume sampah yang harus ditangani mencapai sekitar 12 ton per hari. Jumlah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Menurutnya, komposisi sampah pasar terdiri atas sekitar 56 persen sampah organik dan 44 persen sampah anorganik. Sementara itu, pengelolaan sampah anorganik telah mencapai sekitar 500 kilogram per hari, meskipun masih terdapat potensi untuk ditingkatkan.

Persoalan pengelolaan sampah juga berkaitan dengan keterbatasan sistem penanganan yang tersedia. Gunawan menjelaskan bahwa aktivitas pembakaran sampah pernah mendapat protes dari warga karena hasil uji emisinya tidak memenuhi ambang batas yang ditetapkan.

Karena itu, pemilahan sampah sejak dari sumbernya menjadi langkah penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah.

“Secanggih apa pun sistemnya, kalau pemilahannya tidak optimal, kita hanya memindahkan masalah ke tempat lain,” jelas Gunawan.

Saat ini, upaya pemilahan sampah telah dilakukan di Pasar Giwangan, meskipun kapasitas pengelolaannya masih menghadapi berbagai keterbatasan. Dinas Perdagangan juga memiliki data peternak yang memanfaatkan sampah organik dari pasar.

Gunawan menambahkan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui penyediaan sarana pengangkutan dan pembuangan. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, pengelola pasar, pedagang, buruh gendong, dan berbagai pihak yang terlibat dalam aktivitas pasar.

Buruh Gendong Sampaikan Pengalaman Mengelola Sampah

Dalam sesi diskusi, sejumlah perwakilan buruh gendong menyampaikan pengalaman dan tantangan mereka dalam melakukan pemilahan sampah.

Ratni, salah satu perwakilan buruh gendong, menjelaskan bahwa kelompoknya telah berupaya menerapkan pemilahan sampah setelah mendapatkan pendampingan dari YASANTI. Bahkan, sebagian buruh gendong membawa pulang sampah yang masih dapat dimanfaatkan.

“Kami sudah berusaha melakukan pemilahan sampah seperti yang diajarkan YASANTI. Bahkan, kalau ada sampah dari pasar, kami bawa pulang. Tetapi sampahnya tetap banyak,” ungkap Ratni.

Sementara itu, Asih menyampaikan aspirasi mengenai penyediaan tempat khusus untuk pengolahan sampah. Ia menanyakan kemungkinan pengajuan izin pembangunan tempat pengolahan sampah yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok buruh gendong.

Menanggapi hal tersebut, Gunawan meminta agar aspirasi dan usulan yang disampaikan dalam pertemuan dicatat sebagai bahan tindak lanjut.

Persoalan sampah di Pasar Giwangan juga mendapat perhatian khusus. Para buruh gendong menjelaskan bahwa sampah buah-buahan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan pasar.

Sampah buah melon, misalnya, telah dimanfaatkan oleh peternak. Namun, sampah jeruk masih menjadi persoalan karena menghasilkan cairan lengket yang mengotori area pasar dan berpotensi mengganggu aktivitas pengunjung maupun buruh gendong.

Gunawan mengakui bahwa pengelolaan sampah di Pasar Giwangan membutuhkan penanganan khusus karena melibatkan berbagai kepentingan dan kondisi yang kompleks.

Menurutnya, penyelesaian persoalan tersebut memerlukan musyawarah, komitmen bersama, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi pasar.Rumah Sedekah Botol, Inisiatif Buruh Gendong Mengurangi Sampah Plastik.Salah satu praktik pengelolaan sampah yang disampaikan dalam audiensi adalah pelaksanaan program Rumah Sedekah Botol.

Melalui program tersebut, buruh gendong mengumpulkan botol plastik bekas untuk kemudian dijual. Hasil penjualan menjadi tambahan pemasukan bagi kelompok sekaligus membantu mengurangi sampah plastik di lingkungan pasar.

Dalam pertemuan, perwakilan buruh gendong pasar giwangan menyampaikan bahwa kegiatan pengumpulan botol plastik telah menghasilkan pemasukan sekitar Rp752.500 melalui tujuh kali panen.

Meski demikian, pelaksanaan program masih menghadapi kendala, termasuk adanya kesalahpahaman dengan pihak pengelola pasar mengenai penempatan fasilitas Rumah Sedekah Botol.

Sariroh selaku direktur YASANTI menjelaskan bahwa saat ini kelompok buruh gendong baru dapat menyediakan tempat khusus untuk pengumpulan botol plastik. Adapun sampah kardus belum dikumpulkan secara terpusat karena sebagian anggota memilih membawa pulang atau langsung menjualnya.

Ia juga menyoroti persoalan pemilahan sampah yang belum berjalan secara konsisten.Menurutnya, pemilahan sampah yang sudah dilakukan sejak dari rumah atau sumber sampah terkadang menjadi tidak efektif karena sampah kembali dicampur dalam proses pengangkutan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pemilahan sampah tidak hanya bergantung pada kesadaran individu, tetapi juga membutuhkan dukungan sistem pengelolaan yang konsisten.

Buruh Gendong Soroti Aktivitas Kendaraan dan Dampaknya terhadap Pendapatan

Selain membahas persoalan lingkungan, audiensi juga menjadi kesempatan bagi buruh gendong untuk menyampaikan persoalan yang berkaitan langsung dengan mata pencaharian mereka.

Salah satu aspirasi yang muncul adalah mengenai kendaraan yang masuk ke area pasar, termasuk kendaraan yang berkaitan dengan aktivitas penyediaan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Perwakilan buruh gendong menyampaikan bahwa kendaraan yang masuk langsung ke area pasar dapat mengurangi kesempatan mereka memperoleh pekerjaan menggendong barang.

Menurut mereka, semakin banyak barang yang diangkut langsung menggunakan kendaraan, semakin sedikit pula barang yang membutuhkan jasa buruh gendong.

Menanggapi persoalan tersebut, Gunawan turut menyoroti dampak aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terhadap sistem perdagangan pasar, termasuk perubahan ketersediaan dan harga sejumlah bahan pangan.

Dalam diskusi tersebut, disampaikan pula pentingnya pengaturan aktivitas kendaraan agar kegiatan distribusi barang tetap memperhatikan keberlangsungan mata pencaharian pekerja pasar.

Aspirasi buruh gendong ini memperlihatkan bahwa perubahan sistem distribusi barang di pasar dapat berdampak langsung terhadap pendapatan pekerja informal yang menggantungkan hidup pada aktivitas bongkar muat dan pengangkutan barang.

Mendorong Pasar yang Bersih dan Berpihak pada Pekerja Informal

Audiensi ini memperlihatkan bahwa buruh gendong tidak hanya berperan dalam aktivitas ekonomi pasar, tetapi juga mulai terlibat secara aktif dalam upaya menjaga lingkungan melalui pemilahan dan pengumpulan sampah.

Inisiatif Rumah Sedekah Botol menjadi salah satu contoh bagaimana kelompok perempuan pekerja informal dapat berkontribusi dalam pengurangan sampah plastik sekaligus memperkuat keuangan kelompok.

Namun, berbagai pengalaman yang disampaikan menunjukkan bahwa inisiatif tersebut masih membutuhkan dukungan kebijakan, penyediaan fasilitas, serta koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, pengelola pasar, dan kelompok pekerja.

Bagi YASANTI, keterlibatan buruh gendong dalam pengelolaan lingkungan merupakan bagian dari proses penguatan kapasitas dan pengorganisasian perempuan pekerja informal.

Melalui audiensi ini, buruh gendong dari empat pasar mendapatkan ruang untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan aspirasi mereka secara langsung kepada pemerintah.

Dialog tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat kerja sama dalam mewujudkan lingkungan pasar yang lebih bersih, sehat, dan aman, sekaligus memastikan bahwa kebijakan pengelolaan pasar tetap memperhatikan keberlangsungan mata pencaharian buruh gendong sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi pasar rakyat.

 

kontributor Rahiwati Sanusi

Exit mobile version